Kamis, 19 November 2009

TEORI BIAYA PRODUKSI

Perencanaan biaya dan analisis ekonomis berhubungan erat dengan klasifikasi biaya. Klasifikasi biaya mengenalkan jenis-jenis biaya dan perilakunya dalam hubungannya dengan tujuan biaya, perubahan volume kegiatan, dan keputusan-keputusan manajemen yang terjadi di dalam sebuah perusahaan. Di dalam makalah ini, penulis akan menjabarkan tentang pembedaan biaya diantara dua jangka waktu, yaitu jangka pendek dan jangka panjang, dua jenis biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan, dan juga klasifikasi biaya menurut hubungannya dengan tujuan biaya, hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, hubungannya dengan keputusan-keputusan manajemen, contoh dari masing-masing jenis biaya, perhitungan biaya dan juga kurva biaya.
I. PENGERTIAN
Biaya produksi didefinisikan sebagai semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksi oleh perusahaan tersebut.
Analisis di dalam biaya produksi harus dibedakan menjadi dua jangka waktu, yaitu biaya produksi jangka pendek dan biaya produksi jangka panjang. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan dibedakan menjadi dua bagian pula, yaitu:
1. biaya eksplisit, yaitu pengeluaran-pengeluaran perusahaan yang berupa pembayaran dengan uang (cek) untuk mendapatkan faktor-faktor produksi dan bahan mentah yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk barang ataupun jasa,
2. biaya tersembunyi (imputed costs), yaitu taksiran pengeluaran atas faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh perusahaan.
II. JENIS – JENIS BIAYA
Biaya dalam terminology keuangan didefinisikan sebagai pengorbanan sumber-sumber daya yang diadakan untuk mendapatkan keuntungan atau mencapai tujuan di masa mendatang.
Biaya Produksi Jangka Pendek.
Jangka pendek, yaitu jangka waktu dimana perusahaan telah dapat menambah faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi.
Biaya dalam waktu jangka pendek terdiri atas:
1. Dalam hubungannya dengan tujuan biaya:
a. Biaya Langsung (Direct Cost)
Biaya Langsung merupakan biaya-biaya yang dapat diidentifikasi secara langsung pada suatu proses tertentu ataupun output tertentu. Sebagai contoh adalah biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan. Begitu juga dengan supervise, listrik, dan biaya overhead lainnya dapat langsung ditelusuri pada departemen tertentu.
b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)
Biaya Tidak Langsung merupakan biaya-biaya yang tidak dapat diidentifikasi secara langsung pada suatu proses tertentu atau output tertentu, misalnya biaya lampu penerangan dan Air Conditioning pada suatu fasilitas.
2. Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan:
a. Biaya Total (Total Cost) / TC
Biaya total merupakan jumlah keseluruhan biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya total dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
TC = FC + VC
Contoh:
Diketahui : FC = Rp 120.000,00 VC = Rp 240.000,00
Ditanya : TC = …
Penyelesaian : TC = FC + VC
= 120.000 + 240.000
= 360.000
b. Biaya Variabel (Variabel Cost) / VC
Biaya variabel merupakan biaya yang berubah secara linier sesuai dengan volume output operasi perusahaan. Sebagai contoh adalah biaya pulsa telepon bulanan, biaya pengeluaran untuk upah dan bahan baku.
Biaya variabel dapat dihitung dari penurunan rumus menghitung biaya total, yaitu: TC = FC + VC
VC = TC - FC
Contoh:
Diketahui: FC = 120.000 TC = 480.000
Ditanya : VC = …
Penyelesaian: TC = FC + VC
480.000 = 120.000 + VC
VC = 480.000 – 120.000
= 360.000
c. Biaya Tetap (Fixed Cost) / FC
Biaya tetap merupakan biaya yang tidak berubah mengikuti tingkat produksi. Sebagai contoh adalah biaya peneliharaan pabrik dan asuransi, biaya abonemen telepon bulanan. Biaya tetap dapat dihitung sama seperti biaya variabel, yaitu dari penurunan rumus menghitung biaya total. Penuruanan rumus tersebut, adalah: TC = FC + VC
FC = TC – VC
Contoh:
Diketahui: VC = 600.000 TC = 720.000
Ditanya : FC = …
Penyelesaian: TC = FC + VC
720.000= FC + 600.000
FC = 720.000 – 600.000
= 120.000
d. Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost) / ATC
Biaya total rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya total (TC) untuk memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi oleh perusahaan. Biaya total rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu: ATC = atau ATC = AFC + AVC
Contoh:
Diketahui: TC = 360.000 Q = 3
AFC = 40.000 AVC = 80.000
Ditanya : ATC = …
Penyelesaian: ATC = ATC = AFC + AVC
= atau = 40.000 + 80.000
= 120.000 = 120.000
Dengan menggunakan kedua rumus di atas, maka telah diketahui bahwa hasilnya adalah sama, yaitu Rp 120.000,00.
e. Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variabel Cost) / AVC
Biaya variabel rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya variabel (VC) untuk memproduksi sejumlah baran (Q) dibagi dengan jumlah produksi tertentu. Biaya variabel rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu: AVC =
f. Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost) / AFC
Biaya tetap rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya tetap (FC) untuk memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi tersebut. Biaya tetap rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: AFC =
3. Dalam hubungannya dengan keputusan-keputusan manajemen:
a. Biaya Marginal (Marginal Cost) / MC
Biaya marginal dapat juga dikatakan sebagai biaya pertambahan (incremental cost). Biaya marginal merupakan kenaikan biaya produksi yang dikeluarkan untuk menambah produksi sebanyak satu unit keluaran tambahan. Biaya marginal dapat dihitung dengan menggunakan rumus: MCn =

Jumlah Produksi Biaya Variabel
15 600.000
19 720.000
Contoh:



Maka cara menghitung biaya marginal dari tabel di atas adalah :
MC = = 30.000
Jadi, biaya marginalnya adalah 30.000.
b. Biaya Kesempatan (Opportunity Cost) / OC
Biaya kesempatan merupakan biaya atas kesempatan yang dilepas dengan tidak menempatkan sumber daya perusahaan pada nilai pemanfaatan tertingginya atau merupakan pendapatan biaya yang dikorbankan sebagai akibat kita memilih alternatif tertentu.
Sebagai contoh:
Apabila Ali kuliah sampai selesai di universitas LP3I, maka pendapatan yang diperkirakan adalah Rp 700.000,00/bulan.
Sedangkan apabila tidak kuliah dan memutuskan untuk meneruskan usaha ayahnya, maka pendapatan yang diperkirakan adalah Rp 2.000.000,00.
Bila akhirnya memilih meneruskan usaha ayahnya maka biaya kesempatan yang dikorbankannya adalah Rp 700.000,00.
Tentu saja Ali lebih suka tidak kuliah dan meneruskan usaha ayahnya, bila pendapatan yang diperkirakan jauh lebih besar dari alternatif kuliah.
c. Biaya Terbenam (Sunk Cost)
Biaya terbenam merupakan biaya atau pengeluaran yang apabila sudah dikeluarkan tidak dapat diperoleh kembali. Biaya ini terjadi apabila terdapat perbedaan antara nilai buku dari suatu asset (misalnya mensin-mesin bangunan) dengan nilai sebenarnya ketika asset tersebut dijual. Perbedaan dimana nilai jual asset sebenarnya lebih rendah dari nilai buku dapat juga disebut sebagai biaya terbenam.
Walau demikian, kondisi ini diharapkan tidak mempengaruhi kebijakan untuk penggantian mesin-mesin yang didasarkan pada biaya-biaya yang sebenarnya. Sebagai contoh:
Pada tahun kelima penggunaan suatu mesin mempunyai nilai buku secara akuntansi sebesar Rp 12 juta.
Tetapi, nilai jual sebenarnya ternyata hanyalah Rp 8 juta.
Perbedaan sebesar Rp 4 juta tersebut adalah biaya terbenam yang seharusnya tidak mempengaruhi keputusan penggantian mesin tersebut dengan mesin yang lebih efisien pada tahun kelima pemakaian mesin tersebut.
(Asumsi : umur ekonomis mesin adalah 5 tahun).

Berikut merupakan kurva dan tabel berbagai pengertian ongkos produksi jangka pendek.

Kurva biaya jangka pendek.




Tabel Berbagai pengertian biaya produksi jangka pendek

Jum-lah Produk-si Biaya Tetap Biaya Variabel Biaya Total Biaya Tetap Rata-Rata Biaya Variabel Rata-Rata Biaya Total Rata-Rata Biaya Marginal
0 120000 0 120000 0 0 0
120000
1 120000 120000 240000 120000 120000 240000
60000
3 120000 240000 360000 40000 80.000 120000
40000
6 120000 360000 480000 20000 60000 80000
30000
10 120000 480000 600000 12000 48000 60000
24000
15 120000 600000 720000 8000 40000 48000
30000
19 120000 720000 840000 6315,79 37894,74 44210,53
40000
22 120000 840000 960000 5545,55 38181,82 43636,36
60000
24 120000 960000 1080000 5000 40000 45000


Biaya Produksi Jangka Panjang.
Sebagaimana telah dikemukakan dalam konsep produksi jangka panjang, bahwa dalam produksi jangka panjang semua input diperlakukan sebagai input variabel. Jadi, tidak ada input tetap. Maka dalam konsep biaya jangka panjang semua biaya dianggap sebagai biaya variabel (variabel cost), tidak ada biaya tetap. Dalam jangka panjang, perusahaan dapat menambah semua faktor-faktor produksi yang akan digunakan oleh perusahaan. Jangka panjang, yaitu jangka waktu di mana semua faktor produksi dapat mengalami perubahan, yaitu jumlah daripada faktor-faktor produksi yang digunakan oleh perusahaan dapat ditambah apabila memang dibutuhkan. Faktor-faktor produksi tersebut adalah: faktor pasar, faktor bahan mentah, faktor fasilitas angkutan, dan faktor tenaga kerja.
Untuk menjelaskan konsep biaya jangka panjang yang diturunkan dari jalur perluasan jangka panjang, perhatikan contoh berikut. Bayangkan bahwa suatu perusahaan tertentu hanya menggunakan dua jenis input, yaitu input modal (K), dan input tenaga kerja (L).
Perusahaan mula-mula menggunakan kombinasi input K dan L yang optimum yaitu : K=7 dan L=10 untuk memproduksi output sebesar Q1=100 unit.
Harga dari setiap input modal dan tenaga kerja, masing-masing adalah sebesar: r=$10 per unit modal, dan w = $5 per unit tenaga kerja.
Dengan demikian pada tingkat produksi Q1=100 unit, perusahaan mengeluarkan biaya total jangka panjang (LTC) = Rk + wL = ($10)(7) + ($5)(10) = $120.
Serupa dengan konsep biaya jangka pendek, kita dapat menghitung biaya rata-rata jangka panjang (LAC) dan biaya marginal jangka panjang (LMC). Dengan konsep serupa perusahaan terus berkembang dalam usaha atau produksi melalui beroperasi pada titik-titik keseimbangan produsen yang meminimumkan biaya penggunaan input-input. Garis yang menghubungkan titik-titik keseimbangan produsen sepanjang waktu ini desebut sebagai jalur perluasan jangka panjang. Berikut merupakan jalur perluasan jangka panjang dari perusahaan.

Berikut adalah bentuk umum dari kurva LMC dan LAC.



III. PENUTUP
Biaya produksi atau operasional dalam sistem industri sangat memainkan peranan penting, karena menciptakan keunggulan kompetitif dalam persaingan antar-industri di pasar global. Hal ini desebabkan proporsi biaya produksi dapat mencapai sekitar 70% - 90% dari biaya total penjualan secara keseluruhan, sehingga reduksi biaya produksi melalui peningkatan efisiensi akan membuat harga jual yang ditetapkan oleh produsen menjadi lebih kompetitif.
Biaya dalam ekonomi manajerial mencerminkan efisiensi sistem produksi, sehingga konsep biaya juga mengacu pada konsep produksi, hanya apabila pada konsep produksi kita membicarakan penggunan input secara fisik dalam menghasilkan output produksi, maka dalam konsep biaya kita menghitung penggunaan input itu dala nilai ekonomi yang disebut biaya. Sesuai dengan konsip produksi jangka pendek, di mana terdapat input tetap (fixed inputs) dan input variabel (variable inputs), maka pada dasarnya biaya yang diperhitungkan dalam produksi jangka pendek adalah biaya tetap (fixed costs) dan biaya variabel (variable costs).
Konsep biaya jangka panjang diperlukan oleh manajer untuk menentukan skala operasi dari suatu perusahaan. Dalam membuat keputusan jangka panjang, manajer harus mengetahui biaya produksi minimum dalam memproduksi setiap tingkat output tertentu. Biaya jangka pendek diturunkan dari produksi jangka pendek, sedangkan biaya jangka panjang dari jalur perluasan jangka panjang (long-run expansion path).
Analisis biaya jangka panjang sangat penting untuk mengetahui apakah suatu perusahaan beroperasi pada skala usaha yang ekonomis (economies of scale) atau tidak ekonomis (diseconomies of scale). Skala usaha ekonomi terjadi apabila perluasan usaha atau peningkatan output akan menurunkan biaya rata-rata jangka panjang (LAC). Sebaliknya skala usaha tidak ekonomis terjadi apabila perluasan usaha atau peningkatan output akan meningkatkan biaya rata-rata jangka panjang (LAC).
Jika suatu perusahaan dalam mengembangkan usaha, memproduksi produk lain yang berbeda dengan produk yang sekarang diproduksi (melakukan diversifikasi usaha), maka yang harus dipantau bukan skala usahanya tetapi lingkup usaha yang ekonomis.
Lingkup usaha ekonomis (economies of scope) terjadi apabila dalam suatu diversifikasi usaha ditandai oleh biaya produksi total bersama (joint total production cost) dalam memproduksi dua atau lebih jenis prosuk secara bersama adalah lebih kecil daripada penjumlahan biaya produksi dari masing-masing jenis produk itu apabila diproduksi secara terpisah.
Lingkup usaha tidak ekonomis (diseconomies of scope) terjadi apabila dalam suatu diversifikasi usaha ditandai oleh biaya produksi total bersama (joint total production cost) dalam memproduksi dua atau lebih jenis produk secara bersama adalah lebih besar daripada penjumlahan biaya produksi dari masing-masing jenis produk itu apabila diproduksi secara terpisah.


DAFTAR PUSTAKA
Sukirno, Sadono. 1994. PENGANTAR TEORI Mikroekonomi. RajaGrafindo Persada: Jakarta.

Hakim, Arman. 2006. MANAJEMEN INDUSTRI. Andi: Yogyakarta.

Sukirno, Sadono. 1982. PENGANTAR TEORI MIKROEKONOMI. Bima Grafika: Kuala Lumpur.

Gaspersz, Vincent. 1996. EKONOMI MANAJERIAL. Penerapan Konsep-Konsep Ekonomi Dalam MANAJEMEN BISNIS TOTAL. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Pindyck, Robert, dkk 2003. Mikro Ekonomi. INDEKS: Jakarta.

4 komentar:

  1. rumus untuk menghitung efisiensi biaya produksi gmn ya??????????????????????

    BalasHapus
  2. thanks banget ilmua bu....waduh...maklum deh otaknya ga bisa nyesuain dengan mata kuliah all teori

    BalasHapus
  3. mohon dibantu untuk penyelasaiannya:
    BIAYA TETAP (FIXED COST) ADALAH 500 JUTA RUPIAH, BIAYA VARIABEL ADALAH 500 RIBU RUPIAH PER UNIT, DAN HARGA YANG DITAWARKAN DIPASAR ADALAH 1 JUTA RUPIAH PER UNIT. TENTUKAN PENJUALAN MINIMUM YANG HARUS DICAPAI PERUSAHAAN UNTUK MENURUNKAN HARGA PRODUK JIKA PERUSAHAAN MELAKUKAN PRICE SKIMMING STRATEGY

    BalasHapus
  4. Dear admin kami ada artikel menentukan tarif mesin per jam mohon kiranya sudi untuk review, terimakasih sebelumnya

    BalasHapus